“Agar Kita Semua Bersatu”

oleh -174 views

Yohanes: 17: 1-11

Demikianlah kata Yesus. Lalu Ia menengadah ke langit dan berkata: “Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau.

Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya.

Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.

Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya.

Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.

Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu.

Sekarang mereka tahu, bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari pada-Mu.

Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar, bahwa Aku datang dari pada-Mu, dan mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.

Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu

dan segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku, dan Aku telah dipermuliakan di dalam mereka.

Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.

• Introduksi

Teresa Avila, seorang “Guru Doa” berkebangsaan Spanyol, hidup pada abad ke 14, berujar: “Dua hal ini yang tidak dapat dibedakan; doa dan cinta! Karenanya, kita dapat berkata, doa adalah cinta dan cinta adalah doa. Karena hanya dengan cinta orang saling mendoakan dan doa adalah ekspresi cinta paling dalam, tanpa cacat dan cela, penuh ketulusan hanya demi orang yang dicintai, tanpa mengharapkan balas jaza”. Injil Yohanes bab 17 ini dikenal sebagai “Doa Yesus sebagai Imam Agung” bagi para murid-Nya. Injil ini juga dapat dilihat sebagai ekpresi Doa Bapa Kami dalam kaca mata Injil Yohanes, jika dibandingkan dengan salah satu teks Doa Bapa Kami dalam Injil Matius (Mat 6:9). Dalam Matius 9:6 kita diajak Yesus: “Jika kamu berdoa, berdoalah demikian: Bapa Kami yang ada di Surga….”. Sementara dalam Yohanes 17: 1, Yesus berdoa: “Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau…”. Inilah ekspresi cinta Sang Putra kepada Bapa dan kepada kita, dalam suatu doa yang mendalam.

• Yesus berdoa bagi misi-Nya

Yesus memulai doa-Nya dengan mendoakan kesuksesan misi-Nya. Ia berdoa agar melalui derita, wafat dan kebangkitan-Nya, Ia dapat menemukan kemuliaan. Dalam Injil Yohanes, kemuliaan itu diawali dengan penderitaan. Saat kemuliaan itu adalah saat wafat-Nya di Kayu Salib, yang serentak menjadi momen kebangkitan-Nya dan Persatuan dengan Sang Bapa. Kemuliaan ini bukan untuk diri-Nya sendiri, melainkan kesempatan untuk menghantar orang lain untuk memuliakan Allah.

• Yesus berdoa bagi murid-murid-Nya

Sebaliknya, Yesus berdoa agar semua yang dilakukan-Nya adalah menghantar manusia, siapa saja untuk saling membagikan kehidupan yang dari Allah. Dan apa itu kehidupan tersebut? Yesus katakan itu sebagai berikut: “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Yoh 17:3). Yesus berdoa untuk murid-murid-Nya, “semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu.

• Mengenal Allah dan Yesus

Mengenal Allah dan mengenal Yesus adalah mengakui keunikan Allah sebagai sumber dan tujuan dari segala keberadaan dan segala yang kita miliki. Mengenal Bapa dan Yesus adalah memahami secara penuh tentang pesan Sabda Yesus dan menjadikan Sabda itu sebagai bagian dari batin hati kita dan mewujudkan semuanya itu di dalam kehidupan kita. Pengenalan itu bukan hanya merupakan suatu pengenalan akal budi saja melainkan suatu kesalingan memberikan identitas, cita-cita dan cara hidup. Pengenalan itu bukan semata-mata suatu kesimpulan dari suatu proses intelektual melainkan buah dari suatu “pengalaman”, suatu kontak antar pribadi, antara pribadi Allah dan pribadi manusia. Ketika pengenalan itu menjadi matang, pengenalan itu yang disebut cinta. Ingat, cinta antara suami istri berangkat dari pengenalan paling pertama, yang seterusnya berkembang menjadi pengenalan identitas diri masing-masing, kemudian saling bertukar identitas sehingga pikiran istri adalah pikiran suami, kata-kata suami adalah kata-kata istri, kehendak suami adalah juga kehendak istri. Begitu pula dalamnya pengenalan akan Allah dan relasi orang-orang yang percaya dengan Allah itu sendiri.

• Et Omnes unum sint: Agar semua bersatu

Yesus berdoa dan menghendaki agar mereka semua bersatu seperti kesatuan yang ada pada Komunitas Allah Tritunggal. Kesatuan ini tentunya berangkat dari cinta dan pengenalan yang mendalam satu sama lain. Pengenalan dengan cinta yang mendalam inilah yang menjadi ciri khas murid-murid Kristus, orang-orang yang percaya dan berserah diri pada-Nya. Ciri khas kesatuan kristiani itu, pada dasar yang paling dalam ditentukan oleh apakah kita mencintai satu sama lain. Apakah kita menjadi refleksi cinta dari Allah di dalam Kristus Yesus untuk dunia. Memang, ada banyak tantangan dan halangan untuk memelihara persatuan. Namun di balik perbedaan-perbedaan yang ada, kita masih tetap dapat merayakan cinta Allah kepada kita dan cinta di antara kita. Dalam semangat itu kita dapat melihat adanya solidaritas, saling menghormati dan menghargai, memahami dan menerima pribadi maupun kelompok lain dan mengasihi tanpa batas.

• Dipilih Yesus dan tinggal dalam satu dunia

Yesus-lah yang memilih mereka, namun pada akhirnya merekalah hadiah dari Bapa untuk membantu Yesus meneruskan karya-Nya di dunia ini. Yesus mengucap syukur kepada Allah bahwa mereka telah mengetahui bahwa Ia datang dari Bapa dan bahwa mereka telah menerima pengajaran-Nya. Kemudian, karena mereka adalah milik Yesus, mereka juga sekaligus milik Bapa, lantas melalui mereka, Yesus kemudian menerima kemuliaan.

Kita telah dipilih dari dunia dan masih tinggal di dunia, namun demikian kita tidak turut hidup menurut pandangan dan keinginan duniawi. Pada kenyataannya, kita memberikan kemuliaan kepada Yesus, tepatnya, dengan menantang nilai-nilai duniawi dan meretas jalan kepada “kehidupan abadi”, yang telah kita temui melalui Yesus dan yang telah dan sedang kita rasakan.

Kita bersyukur kepada Tuhan Yesus karena memberitahukan kepada kita rahasia-rahasia kehidupan dari kesatuan-Nya dengan Bapa. Kita berterima kasih kepada para murid dan para rasul dan orang-orang kudus yang berselamat, atas pemberian diri mereka, yang kadang dipersembahkan melalui kemartiran, untuk membagi rahasia kehidupan ini kepada kita. Kita ketahui bahwa, sekalipun memiliki banyak kelemahan dan kerapuhan, namun Tuhan masih mau memakai kita sebagai alat-Nya. Sudah sepantasnya kita membawa misi kasih Yesus kepada dunia saat ini, saat-saat pandemic virus Korona ini kepada dunia. Tidak perlu kita bingung dan bertanya-tanya. Cukuplah kita menyatukan hati dengan perjuangan para medis di garis depan, dengan pemerintah dan para pemimpin agama-agama untuk memutuskan penularan virus ini. Mungkin kita merasa bosan lantaran lamanya masa darurat ini. Mungkin kita sudah tidak sabaran ingin bepergian. Mungkin kita sudah bosan dengan makanan yang itu-itu saja di rumah. Lupakan itu semua, dan bisikan kepada diri sendiri bahwa semakin lama sekalipun masa darurat ini, semakin kita belajar bertahan. Semakin virus ini mengancam, semakin kita tangkal dengan disiplin diri, bertahan menetap di rumah, memperhatikan kebersihan hati dan badan, mencuci tangan dengan sabun, memakai masker dan menjaga jarak fisik. Soal-soal ini kelihatan kecil dan sepeleh, namun kalau dilakukan dalam doa dan korban, maka akan menjadi suatu kekuatan besar melawan keganasan wabah Covid19 ini. Dalam cinta akan Tuhan, jangan pernah menyerah untuk menjaga kehidupan ini. Kita satu dalam Tuhan dan Tuhan menyatu dengan kita dan menyertai kita senantiasa.

• Doa:

“Tuhan dan Allah kami, kami bersyukur atas Sabda-Mu yang menyelamatkan. Kami bersyukur atas iman dan doa yang Engkau berikan dalam batin hati kami. Kami bersyukur untuk semua saudara-saudari yang Engkau letakkan di dalam kehidupan kami. Kami mohon, jangan jauh dari kehidupan kami, satulah dengan kami dalam perjuangan hidup kami dan satukan kami dalam kasih bagi sesame saudara saudari kami. Dikau kami muliakan, sekarang dan selama segala abad”. Amin.

John Lebe Wuwur, OCD
Sacred Heart Church Sonder,
Minahasa, North Sulawesi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *