Menjual Masker, Apakah Budaya Popular?

oleh -276 views

Oleh: Ferdinand Soputan
(Mahasiswa Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta-Praktisi Seni)

TAK bisa dipungkiri bahwa saat ini kita diperhadapkan pada situasi yang sulit. Kendati kita merasa bahwa kita baik-baik saja di rumah kita masing-masing, toh kita tetap kesulitan untuk beraktivitas dan melangsungkan kegiatan sehari-hari sebagaimana mestinya. Ya, pandemi covid 19 kini tidak bisa kita elakkan telah menghantui kita, telah membatasi setiap gerak kita, gerak karya kita dan gerak budaya kita. Pandemi ini, katakanlah menjadi penghalang setiap rencana kita, karena situasi pandemi ini justru menghentikan setiap perencanaan yang sudah dirancang sebelumnya. Kendati demikian, toh situasi ini menjadi sebuah keprihatinan. Hal ini itu nampak ketika nyata bahwa ada semacam Gerakan sejuta masker, lalu orang mulai berbondong-bondong menimbun masker dan memanfaatkan sebuah situasi yang sulit sekarang kini. Fakta ini tentu bukan tanpa kaitan dengan pencarian kesempatan setiap orang, atau katakanlah oknum-oknum tertentu, dalam hal memanfaatkan keuntungan sebesar-besannya.

Fakta diatas, tidaklah berarti bahwa itu adalah budaya popular teranyar. Budaya populer (populer culture) atau yang umum disingkat sebagai budaya pop mulai merebak di kalangan masyarakat modern pada abad ke 20. Pengaruh zaman yang memang tak terelakkan telah begitu kuat melanda negara-negara Barat di mana keterbukaan dan kebebasan menjadi ciri sekaligus aspirasi masyarakatnya.

Seiring dengan arus deras globalisasi teknologi yang menyeruak ke seluruh permukaan planet ini, maka perkembangan budaya zaman itu terimbas ke mana mana dengan dampak yang sangat dahsyat. Generasi kini atau masyarakat kini adalah masyarakat popular yang katakanlah mewakili generasi yang paling cepat menyerap dan menerapkan segala jenis produk perubahan karena mereka adalah kelompok lapisan masyarakat yang paling terpengaruh langsung oleh budaya populer.

Kita tak dapat menutup mata terhadap pergeseran nilai-nilai budaya yang terus menerus terjadi akibat perubahan zaman. Budaya instan, budaya yang memiliki pola pikir yang penting cepat dapat uang, dan langsung dinikmati. Pembangunan di satu sisi menjanjikan perbaikan kondisi hidup, tapi di sisi lain ia juga meninggalkan bahkan meningkatkan berbagai permasalahan negatif yang tidak kurang seriusnya. Bahkan tidak jarang dampak destruktifnya lebih cepat menyebar, lebih kuat dan lebih gawat dibandingkan daya konstruktifnya. Tampaklah bahwa intensitas dan derap pembangunan ekonomi tidak proporsional dengan pembentukan mentalitas akhlak moral yang kuat, artinya, pesatnya pertumbuhan sektor fisik tidak diimbangi pertumbuhan mentalitas rohani. Akibatnya, terjadilah kemerosatan drastis atau dekadensi ketahanan diri terhadap ekses-ekses kejahatan. Sementara itu, kepercayaan terhadap kesigapan, kecakapan dan kewibawaan aparat penegak hukum digoncang sangat keras.

Lalu dari sini bagaimana bisa kita melihat bahwa itu bagian dari budaya popular? Apakah orang-orang yang memanfaatkan situasi covid 19 saat ini untuk meraup keuntungan bisa menjadi sebuah gaya yang popular?

Tanpa maksud menyalahkan situasi dunia yang serba instan dan terus memanfaatkan digital secara massif, tapi kita harus mengerti bahwa hal itu membawa pengaruh. Bandingkan ketika terjadi pandemi influenza sebelum orde baru. Kala itu, dunia digital belum begitu merebak, sehingga orang tidak berbondong-bondong memanfaatkan situasi. Dalam posisi ini, penulis tidak mempersalahkan dunia digital yang menyebabkan kita semua terjaring (terhubung) satu dengan lain secara cepat, namun butuh tindakan bijaksana untuk menghadapinya. Bahkan dapat dikatakan bahwa menjual masker bukanlah sebuah tindakan yang merupakan bagian dari budaya populer.

Pendek kata, kebijaksanaan sebagai sebuah keniscayaan tidaklah perlu diandaikan begitu saja. Perlu usaha keras untuk melihat bahwa itu adalah sebuah kemendesakan kendati hal itu hal yang paling mudah untuk dilakukan. Kita perlu mengusahakan cara berpikir yang cerah, yang bijak ketika menghadapi situasi seperti yang ada kini. Kita perlu menumbuhkan kesadaran kritis terhadap perkembangan kebudayaan, dan tentu bijaksana menghadapinya. Toh itu sulit, tapi paling tidak kita perlu mempertimbangkannya. Budaya populer janganlah dilihat sebagai sebuah model pengembangan budaya yang terlampau mudah, tapi harus dilihat berdasarkan porsi dan bagiannya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *