HomeKolom & Interaktif

Bersahabat Dengan Corona

Bersahabat Dengan Corona

Oleh: Checilia Cindy Pinedendi
Mahasiswa Teologi di Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng/Anggota Young Literacy Community

CORONA atau yang biasa disebut juga Covid-19 adalah salah satu virus yang telah menyebar di berbagai Negara termasuk di Indonesia. Covid-19 mulai muncul di akhir tahun 2019 yang berasal dari Negara Cina yang terkenal dengan Negara yang padat penduduknya dan masuk di Indonesia sekitar bulan Februari 2020. Virus corona muncul sebagai bencana global di tahun ini. Corona termasuk salah satu virus yang sangat berbahaya hingga memakan banyak korban jiwa.

Akibat dari munculnya wabah Covid-19 semua aktivitas yang dilakukan seperti biasanya harus terhambat. Pemerintah menganjurkan kepada semua masyarakat untuk tetap berdiam di dalam rumah saja untuk memutus mata rantai penyebaran wabah Covid-19.

Pemerintah menganjurkan untuk Work From Home (WFH) atau bekerja dari rumah. Jangankan bekerja dari rumah, bahkan aktivitas dalam dunia pendidikan pun dilakukan dengan cara pembelajaran jarak jauh atau biasa disebut dengan pembelajaran daring. Tempat-tempat ibadah tidak boleh dibuka. Semua berubah akibat dari pandemic Covid-19.

Baca Juga  Cap Tikus: Antara Warisan Budaya dan Persoalan Etis

Dengan adanya pandemi Covid-19 berbagai dampak mulai bermunculan. Dampak yang paling berbahaya adalah keadaan ekonomi dari masyarakat. Kurang lebih 3 bulan masyarakat Indonesia khususnya para petani dan pedagang tidak mendapat penghasilan akibat mengikuti anjuran pemerintah untuk melakukan aktivitas semua dari rumah saja.

Para petani dan pedagang tidak seperti para ASN yang memang sudah punya penghasilan tetap untuk tiap bulannya. Selain para petani dan pedagang juga ada para pekerja perusahaan atau pabrik harus dirumahkan karena tidak ada uang untuk menggaji para karyawan. Jadi dampak yang paling besar adalah krisis ekonomi dari masyarakat.

Dengan adanya krisis ekonomi, ini juga akan berdampak pada dunia pendidikan. Ada ribuan anak Indonesia yang terancam akan putus sekolah. Dengan adanya pembelajaran daring maka semua siswa/i wajib memiliki fasilitas untuk menunjang pembelajaran. Harus memiliki laptop atau handphone. Selain itu didaerah pedalaman atau daerah perbatasan yang menjadi kendala juga adalah kondisi jaringan internet yang kurang baik. Dengan melihat kirsis yang terjadi di Indonesia, maka pemerintah melakukan berbagai cara untuk kelangsungan hidup masyarakat. Berbagai bantuan yang disalurkan itu dalam bentuk bahan pangan juga bantuan untuk dunia pendidikan.

Baca Juga  Memediasi Budaya: Sebuah Refleksi di Tengah Pandemik Covid-19

Kita bisa berpikir bahwa apakah kondisi keuangan Negara tidak akan habis jika terus menerus seperti ini? Pasti keuangan negara akan habis. Belum tentu juga bantuan dari pemerintah ini bisa mencukupi biaya hidup dalam sebulan. Jumlah penduduk di Indonesia bukan hanya ratusan. Pertanyaannya mau sampai kapan akan hidup seperti ini? semua dilakukan dari rumah saja. Apakah pandemic ini akan cepat berakhir dengan melihat jumlah kasus positif Covid-19 yang setiap hari semakin banyak? Maka bulan Juni lalu pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk masuk pada keadaan yang disebut dengan “New Normal”.

New normal adalah keadaan dimana kita hidup dalam aktivitas normal yang baru. Walaupun sudah bebas melakukan aktivitas namun masyarakat tetap dianjurkan untuk mengikuti protokol kesehatan yang telah dianjurkan seperti rajin mencuci tangan, memakai masker saat berada di luar rumah, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan. Ini salah satu cara yang akan kita lakukan bukan untuk menyerah pada Covid-19 namun agar kita lebih produktif lagi dengan kondisi sekarang ini. New normal merupakan tatanan baru untuk beradaptasi dengan Covid-19.

Baca Juga  Pandemi Dan Pemajuan Budaya

Bersahabat dengan corona itulah yang akan kita lakukan sekarang ini. Bersahabat dalam arti kita harus tetap mengikuti anjuran yang sudah dikeluarkan agar kita tetah hidup bersih dan tetap sehat. Kita tidak tahu orang yang akan kita jumpai terinfeksi corona atau tidak. Karena virus ini tidak dapat dilihat secara langsung. Kita tidak mengetahui bahwa apakah virus itu sudah ada dalam tubuh kita atau tidak, kita akan mengetahuinya jika timbul gejala-gejala seperti orang yang terinfeksi dengan virus itu. Melihat kasus yang setiap hari bertambah itu berarti penyebaran virus itu belum berakhir. Untuk itu mari kita tetap disiplin untuk mengikuti setiap protokol kesehatan yang ada. Memakai masker, cuci tangan sebenarnya bukan hal yang baru untuk kita, namun itu belum menjadi kebiasaan saja.

Bersahabat dengan corona bukan berarti kita menyerah pada corona namun kita terus berusaha untuk memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19. (*)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0