Dari Dunia Jurnalistik ke Desa: Langkah Simon Gesimaking untuk Pineleng Dua

Oleh: Raymond "Kex" Mudami, Jurnalis senior, Penulis Buku, Konsultan Media

Simon Sili Gesimaking, SS

DESA Pineleng Dua, Kecamatan Pineleng, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara, tidak asing bagi nama Simon Sili Gesimaking, SS. Ia bukan sosok baru yang datang membawa janji, melainkan figur yang sejak lama dikenal melalui kiprahnya di dunia jurnalistik dan keterlibatannya dalam berbagai aktivitas kemasyarakatan.

Sebagai jurnalis senior, Simon telah melewati banyak peristiwa sosial, menyaksikan langsung dinamika masyarakat, termasuk bagaimana kebijakan dan keputusan pemimpin berdampak pada kehidupan warga. Pengalaman tersebut membentuk karakter yang tenang, terbiasa mendengar sebelum berbicara, dan berhati-hati dalam mengambil sikap.

“Orang Pineleng diajarkan untuk baku dapa, baku dengar, dan baku bae,” begitu nilai yang kerap hidup dalam keseharian masyarakat. Nilai inilah yang melekat dalam perjalanan Simon sebagai jurnalis—mendengar banyak suara, merangkum perbedaan, lalu menyampaikannya dengan jujur.

Selain latar belakang jurnalistik, Simon juga pernah dipercaya sebagai Ketua Panitia Pemilihan Hukum Tua. Peran tersebut tidak ringan. Ia berada di tengah, menjaga proses tetap jujur, adil, dan damai, serta memastikan semua pihak merasa dihargai. Dari pengalaman itu, Simon memahami betul bahwa demokrasi desa bukan hanya soal menang dan kalah, tetapi tentang menjaga persaudaraan setelah pemilihan usai.

Baca Juga  Imanuel Manus Tetap Kader Terbaik, Pergantian Ketua Fraksi Golkar Minahasa Hal Yang Biasa Untuk Penyegaran

Bagi sebagian warga, keputusan Simon untuk maju sebagai calon Hukum Tua dipandang sebagai langkah pulang ke akar. Pulang membawa pengalaman, pulang dengan niat mengabdi. Ia memahami karakter masyarakat Pineleng yang menjunjung tinggi musyawarah, menghargai tokoh-tokoh adat dan agama, serta mengedepankan kebersamaan dalam menyelesaikan persoalan.

Sebagai jurnalis, Simon terbiasa bekerja dengan keterbukaan dan akuntabilitas. Dua hal ini sejalan dengan harapan masyarakat desa hari ini—pemerintahan yang bisa diajak bicara, yang tidak berjarak, dan yang hadir saat warga membutuhkan.

“Desa kuat kalau pemimpinnya mau dengar,” menjadi prinsip yang sering ia sampaikan dalam percakapan sehari-hari. Prinsip sederhana, namun sarat makna bagi kehidupan desa yang menjunjung semangat mapalus dan kebersamaan.
Langkah Simon Making kini menjadi bagian dari dinamika demokrasi di Desa Pineleng. Selebihnya, masyarakatlah yang akan menilai dan menentukan. Namun satu hal yang pasti, kehadirannya memperkaya pilihan dengan rekam jejak, pengalaman, dan niat untuk menjaga Pineleng tetap rukun, maju, dan berakar pada nilai-nilai lokal.(“)