Inovasi SMAN 7 Manado dari Sisa Sampah MBG Berlanjut: Setelah Sabun Batang dan Cair, Kini Lilin dan Shampo

Ide Awal Ternyata Datang dari Kepsek Hanny Rawung

Kepala Sekolah SMAN 7 Manado Dr. Hanny William Rawung SS., M.Hum (paling kiri) bersama Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas Maya Kalangi (kedua dari kiri) dan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum sekaligus penanggungjawab Inovasi Sekolah Julisi Supit (paling kanan) di tempat pembuatan eco enzyme turunan sabun batang dan sabun cair di SMA Negeri 7 Manado.

MANADO, JP – Inovasi yang dihasilkan para guru dan siswa SMA Negeri 7 Manado berupa sabuh batang dan sabun cair dari sisa sampah Makanan Bergizi Gratis, mendapat apresiasi dari banyak kalangan. Bahkan inovasi dari sekolah yang sarat berprestasi akademik dan non akademik ini dinilai bisa menjadi referensi bagi sekolah lain yang ingin berinovasi.

Hebatnya, setelah sukses menghasilkan turunan eco enzyme berupa sabun batang dan sabun cair, kini sekolah tersebut mengembangkan inovasinya untuk turunan eco enzyme yang lain yakni lilin dan shampo.

Hal ini disampaikan Kepala Sekolah SMAN 7 Manado Dr. Hanny William Rawung SS., M.Hum., melalui dua gurunya masing-masing Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas Maya Kalangi dan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum sekaligus penanggungjawab Inovasi Sekolah Julisi Supit, ketika diwawancarai jejakpublik di sekolah, Kamis (17/09/2026).

“Kami sudah menghasilkan inovasi dari sisa sampah MBG berupa eco enzyme dan turunannya. Dua turunan eco enzyme yang sudah kami hasilkan yakni sabun batang dan sabun cair,” ujar Maya Kalangi.

Ia menyebut, jumlah sabun batang yang dihasilkan berjumlah 50 sabun, sementara sabun cair berjumlah 60 botol yang berisi 616 mililiter perbotol.

“Kalau sabun batang sudah dihasilkan lebih dulu, selain dipakai di sekolah tapi juga sudah pernah dijual di pameran di Manado dan pada kegiatan MKKS pada waktu lalu. Sementara sabun cair bakal dipasarkan nanti. Kalau sabun batang setelah dihasilkan ditunggu satu bulan baru digunakan sementara sabun cair bisa langsung digunakan. Sabun cair tidak bikin tangan kita rusak tapi keduanya bisa digunakan dan tidak berbahaya,” jelasnya.

Menariknya, ke depan para guru dan siswa sekolah yang berlokasi di Teling kota Manado ini akan menghasilan inovasi lanjutan berupa turunan eco enzyme lain yakni lilin dan shampo.

Baca Juga  Uskup Rolly Pimpin Misa Live Streaming, Josefin: Kami Tetap Khusuk

“Jadi rencananya ke depan akan dibuat turunan eco enzyme yang lain yakni lilin dan shampo. Lilin akan dihasilkan hari Sabtu ini,” tukasnya.

Senada disampaikan Julisi Supit. “Setelah menghasilkan turunan eco enzyme berupa sabun batang dan sabung cair nantinya dihasilkan turunan eco enzyme berupa lilin dan sampo. Semuanya dibuat para siswa SMA Negeri 7 Manado kami guru hanya mendampingi,” paparnya.

Diakui Kalangi dan Supit, selain menghasilkan inovasi dari sisa sampah MBG, kegiatan ini juga bertujuan menjaga lingkungan tetap bersih bebas dari sampah MBG.

“Biasanya setelah makan banyak sisa sampah MBG di sekolah. Dari pada merusak lingkungan sekolah maka sisa sampah MBG dibuat inovasi menjadi barang yang berguna bagi sekolah dan juga masyarakat,” papar keduanya.

Baik Kalangi maupun Supit mengakui jika ide membuat inovasi tersebut datang dari Kepala Sekolah SMAN 7 Manado Dr William Hanny Rawung SS., M.Hum.

“Idenya dari pak Kepsek. Beliau yang meminta kami membuat inovasi dari sisa sampah MBG. Atas ide itu lalu kami pelajari literasinya juga minta bantuan ahli dari kampus De La Salle Manado dan salah satu komunitas dan akhirnya berhasil membuat inovasi ini,” ucap keduanya.

PROSES PEMBUATAN

Supit menjelaskan secara singkat proses pembuatan inovasi turunan eco enzyme berupa sabun batang dan sabun cair tersebut.

“Jadi setelah semua siswa mengkonsumsi MBG, sisa sampahnya khususnya kulit buah dikumpul jadi satu. Tapi tidak semua jenis buah. Yang dipakai adalah kulit buah lemon, apel, melon, semangka, pepaya dan buah naga. Karena bakteri dari buah-buah ini sangat baik sehingga semakin banyak kulit buahnya semakin bagus. Kalau kulit buah lain seperti durian, salak, rambutan dan manggis tidak bisa digunakan. Dan umumnya buah yang didapatkan siswa di MBG bisa dipakai untuk inovasi tersebut,” paparnya.

Baca Juga  Olly Tugaskan Wowor Pulangkan Warga Sulut dari Wamena, Bantuan Pemprov Menyusul

Setelah kulit buah dikumpulkan, lanjut Supit, dibuat komposisi berupa molase, kulit buah dan air. “Kulit buah diiris jadi halus dimasukan dalam wadah dan dicampurkan dengan molase dan air. Campurannya satu kilo kulit buah, satu liter molase dan sepuluh liter air. Kemudian tutup wadah itu rapat-rapat dan disimpan selama 3 bulan lalu disaring. Lebih lama disimpan lebih bagus,” bebernya.

Supit memastikan limbah dari sabun batang dan sabun cair ini tidak akan mencemarkan lingkungan.

“Jadi kami menghasilkan inovasi tapi sekaligus tetap menjaga lingkungan tetap bersih dan sehat,” tandasnya. (Simon)