HomeBeritaBerita Utama

Kejagung: Pulau Marore jadi Daerah Perlintasan Teroris Selundupkan Senjata Ilegal ke Wilayah Indonesia

Kejagung: Pulau Marore jadi Daerah Perlintasan Teroris Selundupkan Senjata Ilegal ke Wilayah Indonesia

SANGIHE, JP- Pernyataan mengejutkan dilontarkan Kasubdit Pertahanan Keamanan pada Jaksa Agung Muda Intelijen (JAM Intel) Kejaksaan Agung (Kejagung) RI Bapak Bambang Panca Wahyudi Hariadi, SH. MH saat melakukan monitoring di Pulau Marore, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Kamis (17/10/2019).

Ia mengungkapkan, Pulau Marore dijadikan daerah perlintasan teroris untuk menyelundupkan senjata ke wilayah Indonesia.

Menariknya, menurut Hamadi, informasi ini merupakan pengakuan teroris saat menjalani persidangan.

“Berdasarkan informasi yang diperoleh terdapat beberapa anggota teroris yang saat dipersidangan mengakui jika mereka menjadikan pulau Marore sebagai daerah perlintasan mereka untuk dapat menyelundupkan senjata ilegal ke wilayah Indonesia,” ujarnya.

Diketahui, Tim Direktorat A Pertahanan Keamanan JAM Intel Kejagung RI yang memonitoring Pulau Marore diantaranya Kasubdit Pertahanan dan Kemanan pada JAM Intelijen Kejaksaan Agung RI bapak Bambang Panca Wahyudi, SH.MH, Jaksa pada JAM intelijen Kejagung RI bapak Bambang Suharjadi, SH MH, Kasi Teritorial Perbatasan dan Cyber Subdit A JAM Intelijen Kejagung RI bapak Alexander Zadi, SH. MH dengan di dampingi oleh Kepala Kejaksaan Negeri Kepulauan Sangihe Bapak Yunardi, SH. MH serta Kasi Intelijen Kejari Kepulauan Sangihe Erwan Budi H, SH.

Baca Juga  Kejagung Periksa 7 Saksi Terkait Perkara BAKTI Kementerian Kominfo

Setelah disambut oleh Camat Marore Imelda Lawendatu, Tim Intelijen melakukan penghimpunan informasi terkait pelintas batas orang dan barang di Pulau Marore yang berpotensi memiliki faham radikalisme dan terorisme.

Dalam sambutannya Kasubdit Pertahanan Keamanan Pada JAM Intelijen Kejagung RI Bapak Bambang Panca Wahyudi Hariadi, SH. MH mengungkapkan, maksud kunjungan tim Intelijen ini dikarenakan pulau Marore berada di perbatasan dan letaknya berbatasan langsung dengan negara Philipina.

“Ini tentu berpotensi menjadi tempat transit atau pelintasan orang asing yang memiliki faham radikal dan terorisme. Oleh karena itu, Tim Intelijen melakukan pemetaan terhadap daerah perbatasan di seluruh Indonesia termasuk Pulau Marore untuk mencegah hal tersebut,” katanya.

Baca Juga  Pelamar Luar Minahasa Mau Ikut Seleksi CPNS di Minahasa? Ini Dua Syarat Harus Dipenuhi

Ia berharap agar aparatur setempat dapat memberikan informasi yang lengkap dan detail terkait perlintasan orang dan barang illegal di wilayah Pulau Marore untuk mencegah hal yang tidak diinginkan.

Selama di Marore, Tim Intelijen melakukan monitoring secara langsung, lengkap dan detail mengenai kondisi wilayah perbatasan dalam rangka pencegahan paham radikalisme dan terorisme.

Pengumpulan data dan informasi langsung berasal dari aparatur setempat yaitu dari Camat Marore, Pos AL Marore, Koramil Marore, Satgas Pulau terluar TNI AD, Polsek Marore, Imigrasi, Bea Cukai, Perwakilan Pos Border Station Philipina di Marore serta tokoh masyarakat dan tokoh agama setempat.

Baca Juga  Wujud Kontribusinya Tuntaskan Masalah Papua, Uskup Mandagi Undang Paus Fransiskus Kunjungi Merauke

Dari pengumpulan informasi yang diperoleh dari monitoring ini akhirnya terungkap, bahwa terkait potensi Pulau Marore yang dijadikan sebagai tempat perlintasan para teroris memasok senjata ilegal ke wilayah Indonesia, kemungkinan melalui ” jalur tikus ” yang berada di pulau tidak berpenghuni yang ada di sekitar Pulau Marore.

Untuk mengantisipasi masuknya orang yang berfaham radikalisme dan terorisme serta masuknya barang illegal khususnya senjata, dari aparat kemanan baik TNI dan Polri selalu melaksanakan patroli di Pulau Marore dan pulau sekitar Marore.

Selain itu juga dilakukan pencegahan penyebaran faham radikalisme dan terorisme di Pulau Marore dilaksanakan dengan melakukan pemeriksaan oleh aparat setempat terhadap orang atau barang yang singgah atau yang tinggal di Pulau Marore. (JPc)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0