HomeSosok

Kesaksian Pdt Hanny di HUT Pernikahan Mengagumkan, Sumolang: Ibarat dari Perjanjian Lama ke Perjanjian Baru

Kesaksian Pdt Hanny di HUT Pernikahan Mengagumkan, Sumolang: Ibarat dari Perjanjian Lama ke Perjanjian Baru

MINAHASA, JP- Keluarga Pendeta Hanny Pantouw STh dan Maidy Palar mensyukuri Hari Ulang Tahun (HUT) ke-36 Pernikahan mereka, dengan menggelar ibadah syukur di kediamannya Kampoeng Harmagedon Tateli Kecamatan Mokupa Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara, Rabu (20/10/2021) malam.

Perayaan ini dihadiri keluarga besar Pantouw – Palar, Kepala Kesbangpol Sulut Steven Liow mewakili Gubernur Olly Dondokambey, jemaat dan para hamba Tuhan Gereja Bethel Indonesia (GBI) Manado, sejumlah pengurus Laskar Manguni Indonesia (LMI) yang adalah ormas adat terbesar di Indonesia serta undangan lainnya.

Dalam kesempatan itu, Pdt Hanny didampingi istri serta anak-anak Pamela Pantouw bersama suami Maurits Kiolol dan Elia Pantouw, memberikan kesaksian tentang kisah awal mula pertemuan dia dan istri yang begitu mengejutkan namun sangat inspiratif.

Pendeta Hanny Pantouw STh bersama istri dan anak-anak didoakan Pdt Stevanus Sumolang dan para hamba Tuhan.


“Awal mula pertemuan saya dengan ibu
(Maidy Palar, red) di Jakarta tahun 1984. Waktu itu saya cuma tinggal seadanya di kost, menjadi preman jalanan, menodong orang, berkelahi, dagang narkoba dan sebagainya. Tapi saya nekat menemui calon mertua untuk melamar ibu,” ujarnya.

Lalu setahun kemudian 1985 Pdt Hanny mengaku dirinya dan Maidy Palar resmi menikah.

“Waktu menikah yang menjadi saksi justru 7 orang penjahat alias preman jalanan teman saya. Begitu juga di catatan sipil mereka jadi saksi. Dan tidak ada pesta cuma pptong 3 ekor ayam makan bersama. Padahal orang tua ibu sangat mapan dan apalagi ibu anak perempuan satu-satunya pasti ingin ada pesta meriah,” paparnya.

Baca Juga  KEK Pariwisata Likupang Direstui Jokowi, Upaya Olly Berhasil

Pdt Hanny tak menampik jika ia dan istrinya menjalani kehidupan rumah tangga yang sangat sulit usai nikah.

“Setelah menikah kami tinggal di kost yang tempat tidurnya tidak ada sprei, lemari cuma satu dan sudah rusak dan tidak ada kursi. Pernah kakak ipar datang bertamu dan duduk di lantai. Untuk makan saja sangat susah,” paparnya.

Pendeta Hanny Pantouw STh bersama istri Maidy Palar dan anak-anak Pamela Pantouw dan Maurits Kiolol dan Elia Pantouw saat menyalahkan lilin HUT Pernikahan.


Menurut Pdt Hanny, dirinya sempat menjadi satpam di Satpan angkatan pertama di Indoneaia dengan gaji Rp35 ribu.

“Saya juga sering terlibat perkelahian ketika mrnangani masalah tanah dan jadi debt collector dan sebagainya. Kadang saya pulang rumah dengan tubuh berdarah-darah. Bahkan pernah saya ditangkap tentara dan ditahan dan ibu tidak bisa menemui saya. Kami juga terpaksa jual satu persatu barang berharga di rumah sampai tersisa tempat tidur supaya bisa makan,” bebernya.

Pdt Hanny mengatakan dia berhenti dagang narkoba setelah meenikah.

“Ibu sangat baik dan setia. Ibu tetap menerima saya apa adanya bahkan tahu kalau saya ini dari preman jalanan yang hidup penuh dosa. Makanya setelah menikah dengan ibu saya berhenti dagang narkoba,” tukasnya

(Dari kiri) Kaban Kesbangpol Sulut Steven Liow, Pendeta Stevanus Sumolang dan Sekjen DPP LMI Trius Abas.


Hingga akhirnya, lanjut Pdt Hanny, dia kembali ke Manado dan dipulihkan Tuhan lalu bertobat dan menjadi seorang Pendeta yang kemudian membuat kehidupannya menjadi semakin baik, dianugerahi kedua anaknya Pamela dan Elia dan mendapat banyak berkat dari Tuhan.

Baca Juga  Pekan Depan Gugatan Praja Terbaik Sulut Terhadap Rektor IPDN Jatinangor Mulai Disidangkan

Pdt Hanny pun terus melayani sebagai hamba Tuhan, menghibahkan tanah dan mendirikan panti rehab narkoba untuk menolong anak muda yang kecanduan narkoba, mendirikan ormas adat LMI untuk membantu masyarakat, bermitra dengan pemerintah dan TNI/Polri dan menjaga NKRI dan sebagainya.

“Saya dan ibu terus berusaha agar bisa menjadi berkat dan bermanfaat bagi orang lain. Karena prinsipnya hidup ini sekali dan singkat, tapi jika hidup kita bermanfaat bagi orang lain maka sekali saja cukup,” tegasnya.

Sejumlah Pengurus DPP LMI hadir di ibadah syukur. HUT ke-36 Pernikahan Keluarga Pantouw – Palar.


“Saya selalu di depan membela orang-orang yang tersolimi sekalipun nyawa saya jadi taruhan. Banyak orang minta saya maju jadi anggota dewan dan pasti terpilih karena punya banyak massa LMI, tapi saya tidak mau karena itu orang lain punya. Saya tetap menjadi Pendeta dan jika nantinya mati saya ingin mati sebagai seorang Pendeta,” tambahnya.

Pdt Hanny memastikan, selama hidupnya dia akan terus bergerak.

“Saya akan terus bergerak sampai Tuhan menjemput saya. Karena lebih baik terus bergerak dengan resiko jatuh dari pada diam dan membusuk,” tandasnya.

Perayaan ini diawali dengan ibadah yang dipimpin oleh Pdt Stevanus Sumolang. Dalam kotbahnya, Pdt Stevanus mengatakan hanya ada 2 lembaga yang dibentuk oleh Tuhan yakni keluarga dan gereja.

Baca Juga  Pdt Hanny Lantik Pengurus DPW LMI Metro Jaya dan Pimpin Ibadah Oikumene se-Wilayah DKI Jakarta

“Keluarga itu bukan soal gelar, kekayaan, pangkat, jabatan dan lain-lain tapi soal pribadi. Dan bicara keluarga itu cuma satu kata yakni dewasa. Dan di situ butuh proses. Ada kegagalan ada pula keberhasilan dan sebagainya tapi tangan Tuhan selalu menyertai,” ujarnya.

Para Pendeta GBI di Manado foto bersama Pdt Hanny Pantouw.


Menariknya, Pdt Stevanus mengibaratkan perjalanan hidup keluarga Pantouw – Palar seperti Kitab Suci.

“Saya cukup mengenal perjalanan hidup berkeluarga dari Papa Hanny dan Bunda Maidy. Perjalanan hidup keluarga ini luar biasa ibarat kitab suci dari perjanjian lama sampai perjanjian baru. Sungguh paripurna,” paparnya.

Sementara itu, dalam testimoninya Sekjen DPP LMI Drs Trius Abas mengatakan keluarga Pantouw – Palar merupakan keluarga yang berkarakter.

“Karakter dari keluarga ada 3 hal yang saya temukan yakni kemauan, kesempatan dan kemampuan. Berkat ketiga hal inilah yang membuat keluarga ini menjalani kehidupan yang sulit sampai kini telah meraih cita-cita di usia 36 tahun pernikahan. Kata kuncinya adalah disiplin,” kata Trius yang juga adalah Staf Khusus Bupati Minahasa Utara ini.

Pengurus DPP LMI foto bersama Pdt Hanny Pantouw dan istri.


Sedangkan Kepala Badan Kesbangpol Sulut Stevem Liow yang mewakili Gubernur Sulut juga menyampaikan 3 hal dari keluarga Pantouw – Palar.

“Saya kenal baik dan sangat dekat dengan Pendeta Hanny. Saya temukan ada 3 hal dalam diri Pendeta Hanny Pantouw, yakni terlahir dari hasil satu proses, hasil dari keteladanan dan hasil dari interaksi sosial.,” ucapnya.

Dikatakan Liow, selama ini peran Pdt Hanny untuk Sulut sangat besar dalam menjaga kerukunan, keamanan dan mendukung Pemerintah dalam membangun daerah.

“Saya percaya Tuhan Yesus memberkati keluarga Pantouw – Palar dan menjadi teladan bagi banyak orang. Sambil bemohon semoga Tuhan memberikan kesehatan selalu kepada keluarga Pantouw – Palar serta anak-anak dan cucu,” tandasnya.

Kaban Kesbangpol Sulut Steven Liow dan istri, 2 anggota DPRD Manado Jurani Rurubua dan Lily Binti serta tokoh muda muslum yang juga Komisioner Bawaslu Manado Taufik Bilfaqih foto bersama Pdt Hanny Pantouw.


Perayaan ini tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat. (JPc)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0