TRIO “S” DI KEMUDI KAPAL BESAR KBK: Kematangan Pengabdian, Semboyan Suci, dan Semangat Santo Yosep

Dilantik dan Diutus di Rumah Sang Pekerja Setia: Menghidupi Pro Familia, Ecclesia et Patria

Ketua Umum KBK Keuskupan Manado Charles Ngangi (Kiri), Sekretaris Umum John Iroth (kanan atas) dan Bendahara Umum Lock FX Kojongian (Kanan bawah)

HARI ini, “kapal besar” bernama Kaum Bapak Katolik (KBK) Keuskupan Manado kembali membentang layar dengan nahkoda baru. Momen suci ini ditandai dengan pelantikan dan pengutusan pengurus periode 2026–2030 oleh Uskup Manado, Mgr. Benedictus Estephanus Rolly Untu, MSC. Perayaan berlangsung dalam Ekaristi Kudus di Gereja Katolik Paroki Santo Yosep Pekerja, Kleak Manado, Minggu (13/09/2026) pukul 18.00 Wita.

Harapan akan arah yang lebih baik dan kesuksesan besar terpatri dalam hati Uskup, para imam, serta puluhan ribu anggota KBK yang tersebar di tiga wilayah: Sulawesi Utara (Sulut), Sulawesi Tengah (Sulteng), dan Gorontalo. Kepercayaan tertinggi dijatuhkan kepada Dr. Ir. Charles Ngangi, M.Si. sebagai Ketua Umum, menggantikan Edwin Kindangen. Penunjukan ini berakar dari hasil Konferensi VIII dan Pertemuan Raya KBK di Paroki Santo Fransiskus Xaverius Guaan, Bolaang Mongondow Timur, pada 1–4 Juli 2026, lalu ditegaskan oleh Pastor Moderator KBK, Romo Ferry Runtu, setelah rapat bersama Uskup dan tim Kuria.

Gerak cepat sang nahkoda utama sungguh mengesankan: dalam waktu singkat, susunan kepemimpinan lengkap telah rampung dan siap dilantik. Di posisi kunci yang menjamin kestabilan organisasi, kita mengenal dua nama yang tidak asing lagi: John Felix Iroth sebagai Sekretaris Umum dan Lock FX Kojongian sebagai Bendahara Umum.

1. ​Tiga Sosok dengan Pengabdian yang Nyata dan Rekam Jejak Mumpuni

Ketiganya – Ketum, Sekum, Bendum – bukanlah wajah baru atau orang asing. Mereka telah malang melintang di KBK dari akar hingga puncak: mulai dari KBK Unit, Paroki, Kevikepan, hingga tingkat Keuskupan. Nama mereka sudah sangat bersahabat di hati umat di seantero tiga provinsi. Namun yang membuat mereka istimewa bukan sekadar jabatan, melainkan kualitas hidup dan jejak pengalaman yang luar biasa:

* Dr. Ir. Charles Ngangi, M.Si. – Nahkoda Berilmu dan Berakar.
Tak hanya sukses membangun rumah tangga yang harmonis dan menjadi teladan, ia juga aktif berkontribusi di lingkungan gereja dan kemasyarakatan. Ia eorang akademisi terhormat, dosen di Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi. Di dalam organisasi, ia bukan pemimpin baru: sudah berkiprah sejak muda, selalu dipercaya memegang jabatan strategis, dan telah menjabat sebagai Wakil Ketua Umum KBK Keuskupan Manado di beberapa periode sebelumnya. Selain KBK, ia juga berkarya di berbagai organisasi lain, baik berskala lokal maupun nasional. Tak heran jika sosok ini sangat matang dalam berorganisasi, paham betul seluk-beluknya, sabar, dan berpikir jangka panjang.

* John Iroth – Tangan Kanan yang Teliti dan Teruji.
Ia pensiun dari lembaga pendidikan Katolik De La Salle Manado, salah satu kampus ternama di Sulut, yang sebelumnya menjabat sebagai Sekretaris Yayasan PTU De La Salle Manado. Ia sukses membangun keluarganya yang harmonis dsn menjadi teladan. Dedikasinya bagi KBK sangat dalam: pernah menjabat sebagai Ketua KBK Kevikepan Manado dan Wakil Ketua Umum KBK Keuskupan Manado. Keahliannya tidak hanya di ranah gereja, ia juga pernah menjadi anggota DPRD Kota Manado dan pengusaha mapan yang mengelola usaha rumah kost. Teliti, luas wawasannya, dan mengerti tata kelola yang rapi.

* Lock FX Kojongian – Penjaga Harta dan Penasihat Tajam.
Selain sukses mebangun keluarga yang harmonis dan menjadi teladan, ia sosok berpengalaman luas di dunia organisasi maupun kemasyarakatan. Nama beliau sangat dihormati sebagai Penasihat KBK Keuskupan Manado dan juga aktif di berbagai organisasi lain, termasuk Legio Christi Keuskupan Manado. Ia juga seorang politisi handal dan berpengalaman: pernah menjabat sebagai Wakil Ketua DPD Partai Demokrat Sulut dan Ketua DPC Demokrat Sangihe. Selain itu, ia merupakan pengusaha sukses yang memiliki ketajaman mengelola sumber daya serta menjunjung tinggi prinsip kejujuran dan tanggung jawab.

2. KBK Tiga Provinsi Memilih Kematangan Pengalaman

Dari fakta di atas, tak terbantahkan bahwa ketiganya adalah sosok senior dengan rekam jejak yang teruji. Namun ada hal unik yang menjadi kekuatan utama kepemimpinan ini: mereka bukan generasi muda dalam hitungan tahun, melainkan generasi matang, generasi senior. Trio “S” ini adalah sosok yang berilmu, beriman, dan sangat teruji.

Banyak orang berkata: “Sekarang waktunya pemimpin muda!” Benar adanya, semangat baru selalu dibutuhkan. Namun untuk mengemudikan organisasi raksasa yang membentang di tiga provinsi, KBK mengambil jalan paling bijak, bukan menolak kemajuan, tapi menumpukan kepercayaan pada kematangan yang sudah terbukti. Dan pilihan itu jatuh pada tiga senior KBK tersebut. Pilihan ini bukan sekadar soal umur, melainkan tentang kekayaan hasil pengalaman hidup:

* Punya Kompas yang Tak Tergoyahkan
Di usia yang tak lagi muda, Trio “S” tidak lagi tergoda popularitas sesaat atau keuntungan pribadi. Mereka sudah melewati pasang-surut organisasi puluhan tahun, hafal sejarah gereja kita, dan paham benar mana jalan yang lurus dan mana yang berisiko.

Baca Juga  Susi Sigar Harapan Baru, Sosok Terbaik Hadirkan Kemajuan dan Kesejahteraan, Ini 8 Alasan Layak Pimpin Minahasa

* Menjadi Jangkar Kokoh Saat Badai Datang
Dunia berubah sangat cepat, penuh keributan, kebisingan media sosial, dan emosi yang mudah meledak. Di sini dibutuhkan pemimpin matang yang tidak panik dan tidak bereaksi terburu-buru. KBK optimis di bawah kepemimpinan Trio “S” akan membawa ketenangan persis seperti pelaut tua yang tenang menghadapi ombak ganas di laut Sulawesi.

* Integritas yang Sudah Diuji Waktu
Trio “S” memegang amanah bukan untuk mencari nama atau jabatan. Hati mereka jernih; motivasi murni lahir dari panggilan iman dan pelayanan: bertanya apa yang bisa mereka berikan bagi Gereja, bukan apa yang bisa didapat. Kejujuran dan nama baik dibangun perlahan selama bertahun-tahun di mata masyarakat dan gereja. Rambut memutih bukan tanda kelemahan, melainkan tanda kesetiaan yang tak terputus.

* Jaringan dan Persatuan yang Menyambung Masa
Selama puluhan tahun, Trio “S” merajut persaudaraan di tiga wilayah ini. Tahu akar setiap paroki, menghormati perbedaan budaya, dan memegang erat tali persaudaraan yang tidak boleh putus. Kepercayaan yang mereka miliki adalah modal terbesar menyatukan hati lintas daerah. Generasi muda membangun menara yang tinggi; pemimpin tua menjaga fondasi agar bangunan itu kokoh berdiri.

* Suara Hati yang Tak Tergelincir Tren
Di tengah dunia yang bising dan nilai yang berubah-ubah, Trio “S” tetap teguh pada ajaran kekal Gereja. Tidak mudah terbawa arus, tetap berpegang pada kebenaran dan kebijaksanaan mendalam, menjadi penyeimbang di tengah kegelisahan zaman.

* Bukan Menghalangi, Tapi Menyangga Generasi Muda
Kepemimpinan ini tidak menutup pintu bagi anak muda. Sebaliknya, mereka memegang kemudi agar kapal stabil, memberi ruang luas bagi tunas baru untuk tumbuh, berinovasi, dan belajar. Trio “S” menjadi jembatan emas dan pijakan kokoh bukan atap yang menutup langit, melainkan tanah subur tempat penerus bertumbuh kuat. Pemimpin lanjut usia tidak memadamkan cahaya muda—mereka memastikan pelita itu dinyalakan dengan benar agar tidak padam nanti.

3. Semboyan KBK Menyatukan Kekuatan

Memang ada yang berkata: “Zaman sekarang butuh pemimpin muda!” Itu benar. Namun untuk kapal besar yang membentang luas, kecepatan harus diimbangi kestabilan, dan semangat butuh kompas. Inilah keistimewaan Trio “S”: Zaman butuh kecepatan, tapi kapal besar butuh jangkar. Generasi muda membawa angin segar, tapi pemimpin senior membawa kompas yang tak pernah luntur arahnya.

Kekuatan mereka bertumpu pada nilai luhur KBK yang dihidupi sepenuhnya. Semboyan suci kita Pro Familia, Ecclesia et Patria (Bagi Keluarga, Gereja, dan Tanah Air) bukan sekadar kata-kata, melainkan nyata tercermin dalam perjalanan hidup mereka:

* Pro Familia (Bagi Keluarga): Menjadi teladan dan tiang rumah tangga. Kestabilan hati dan teladan hidup menjadi cahaya bagi keluarga dan generasi di bawahnya.

* Pro Ecclesia (Bagi Gereja): Menjadi pondasi setia bagi Gereja. Punya kompas iman yang tak tergoyahkan, menjadi jangkar di tengah badai zaman, melayani setia tanpa pamrih.

* Pro Patria (Bagi Tanah Air): Menjadi warga yang bermanfaat bagi bangsa. Jaringan persatuan yang luas, integritas yang teruji waktu, dan menjaga keutuhan tiga provinsi kita.

Trio “S” bukan generasi muda dalam hitungan tahun, melainkan generasi matang, senior, dan teruji. Kembali kita tegaskan: kapal besar butuh jangkar yang kuat dan arah yang jelas.

4. Kekuatan yang Teguh di Tengah Badai

Dengan segala rekam jejak di atas, Trio “S” tidak lagi mengejar nama, jabatan, atau keuntungan sesaat. Arah mereka jernih, sejalan dengan semboyan KBK:

* Punya Kompas Sejarah: Sudah melewati pasang-surut, hafal sejarah gereja dan KBK, tahu persis mana jalan yang lurus. Tidak ada ujian yang mengejutkan mereka.

* Jangkar di Tengah Badai: Dunia berisik dan cepat berubah, mereka tetap tenang. Seperti pelaut tua yang tak gentar menghadapi ombak Laut Sulawesi, memimpin dengan kepala dingin, bukan emosi.

* Integritas Diuji Waktu: Rambut memutih adalah tanda kesetiaan, bukan kelemahan. Melayani karena panggilan Tuhan, bukan ambisi duniawi.

* Jembatan Persatuan: Tali persaudaraan yang mereka rajut puluhan tahun menyatukan Suluttenggo lebih kuat dari sekadar tulisan aturan.

* Tanah Subur Bagi Generasi Baru: Tidak menghalangi sinar matahari muda, melainkan menjadi fondasi agar anak muda bisa tumbuh tegak dan belajar dari pengalaman mereka.

Jelaslah muda itu tenaga yang berlari, tapi tua itu arah yang pasti. Tanpa arah yang jelas, tenaga sekuat apa pun akan habis sia-sia. Trio “S” menghidupi kepemimpinan yang memiliki arah pasti.

Baca Juga  SSK, Figur Milenial Layak Pimpin Manado

5. Saksi Ajaib “Sang Pekerja”

Ada keindahan luar biasa dalam momen ini: pelantikan berlangsung di rumah Santo Yosep Pekerja. Santo Yosep dikenal bukan karena suara lantang, melainkan karena hati yang tulus, tangan yang bekerja keras, dan kesetiaan yang tak tergoyahkan dalam diam. Orang Kudus ini menjadi saksi atas komitmen pengabdian yang terucap dari para pengurus baru.

Inilah jiwa yang menyatu dengan Trio “S”:
* Seperti Yosep, mereka tidak mencari sorotan, tapi memikul beban dengan kokoh.
* Seperti Yosep, mereka menjaga amanah dengan murni dan melindungi keluarga besar ini.
* Seperti Yosep, usia dan pengalaman mereka bukan kelemahan, melainkan tanda kesetiaan yang telah diuji waktu.

Di bawah telinga Santo Yosep yang bekerja dalam sunyi, ketiga pemimpin ini berjanji: memimpin dengan hati murni, melayani dengan tangan rajin, dan menjaga damai sejahtera.

6. Menanti Sentuhan Kebijaksanaan yang Berbuah

Malam ini di Gereja Santo Yosep Pekerja, Kleak Manado, kita tidak sekadar merayakan pergantian pengurus, melainkan kematangan pelayanan. Kapal besar KBK melaju empat tahun ke depan di tangan yang sudah teruji, hati yang sabar, dan iman yang dalam.

Trio “S” menerima kepercayaan ini bukan tanpa pergumulan. Mungkin saat ini mereka ingin beristirahat, menikmati ketenangan masa tua bersama keluarga. Namun panggilan Tuhan membuat mereka memilih meninggalkan “zona nyaman” demi membaktikan sisa hidupnya tulus-tulus sebagai PELAYAN bagi masa depan KBK.

Meski panggilan ini mulia, memimpin di usia yang tidak muda lagi bukan tugas ringan. Namun, dengan doa dan berkat Tuhan, serta recikan air suci melalui tangan Uskup Manado serta doa seluruh kaum bapak dan umat Katolik di tiga provinsi, Trio “S” meyakini ada Tangan yang Tak Terlihat (The Invisible Hand) yang menopang mereka, yaitu Tuhan Yesus yang menjadi pusat hidup mereka. Dan bersama Bunda Maria, hati mereka pun berujar pasti: “Ecce ancilla Domini, fiat mihi secundum verbum tuum” (Aku ini hamba Tuhan, jadikanlah padaku menurut perkataan-Mu).

Kini, kapal besar bernama Kaum Bapak Katolik Keuskupan Manado di bawah kendali sang nahkoda ulung Ketum Charles Ngangi dengan dibantu navigator handal Sekum John Iroth dan Bendum Lock FX Kojongian selaku pengatur arah angin dan rute, segera melaju di lautan luas tiga provinsi di bawah kemudi sang nahkoda handal yang punya tangan yang sarat pengalaman, hati yang sungguh sabar dan iman yang begitu mendalam.

Mari kita sambut Trio “S” KBK: Dr. Charles Ngangi, John Felix Iroth, dan Lock FX Kojongian, beserta seluruh pengurus, dengan sukacita, doa tulus, hati terbuka dan optimisme. Selamat bertugas wahai tangan-tangan terpercaya! Semoga dalam arahan Uskup dan tuntunan Roh Kudus, pelayanan ini membawa buah yang melimpah bagi seluruh kaum bapa Katolik, keluarga, Gereja, dan masyarakat di Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, serta Gorontalo.

Akhir kata, saya tutup tulisan ini dengan sebuah pantun:

Kapal besar bertolak dari Pelabuhan Santo Yosep Manado
Berlayar melintasi lautan Sulut, Sulteng dan Gorontalo
Wujudkan Pro Familia, Ecclesia et Patria
Bersama Trio “S” kita sampai pada tujuan mulia
(Simon Gesimaking)