HomeEkonomi

Dirut PLN Beberkan Rencana Genjot Kompor Listrik

Dirut PLN Beberkan Rencana Genjot Kompor Listrik

JAKARTA, JP – Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengungkapkan bahwa saat ini PT PLN (Persero) tengah menghadapi persoalan kelebihan pasokan listrik.

Hal itu disampaikannya dalam rapat dengar pendapat di Komisi VI, Rabu (15/06/2022).

“Saat ini PLN bersama pemerintah tengah menggodok program untuk realokasi subsidi LPG untuk mempercepat penggunaan kompor induksi, baik ini untuk pembelian kompor listriknya dan juga dengan utensil-nya bantuan dari pemerintah,” ujarnya.

Menurut Darmawan, Salah satu cara untuk mengatasi persoalan tersebut adalah dengan menggenjot penggunaan kompor induksi atau kompor listrik. Karena itu pihaknya menargetkan penambahan 15 juta rumah tangga yang menggunakan kompor listrik.

Baca Juga  Lantaran Corona, Sulut Batal Ekspor Pala di Dua Negara Potensial Ini

“Kompor induksi memang ini menjadi salah satu solusi yang utama bagaimana kami bisa menyelesaikan kondisi over supply dengan target adalah 15 juta penambahan rumah tangga menggunakan kompor induksi,” katanya.

Dengan demikian, lanjut Darmawan, nantinya terjadi pergeseran yang tadinya menggunakan LPG impor yang harganya Rp 18.000 per kg kemudian menggunakan listrik yang setara Rp 10.350. Harga jual LPG yang Rp 18.000 per kg itu saat ini disubsidi sehingga dijual sekitar Rp 7.000 per kg.

“Kemudian di sini karena harga LPG 3 kg hanya Rp 7.000 (per kg) saja, sedangkan ekuivalen listrik Rp 10.350, sedangkan harga keekonomian LPG adalah Rp 18.000, tentu saja kami akan memberikan suatu program matching. Jadi per kg listrik ekuivalen dengan LPG juga sekitar Rp 7.000. Ini sedang kami godok dengan pemerintah,” jelasnya

Baca Juga  Wabup: Paskah Nasional Bisa Dongkrak Pendapatan UMKM

Dengan realokasi tersebut maka subsidi yang biasanya diberikan ke LPG sampai Rp 11.000 per kg akan menjadi hanya Rp 3.000 untuk listrik. Jadi, harga penggunaan listriknya bisa Rp 7.000 setara dengan harga per kg LPG 3 kg yang disubsidi.

“Itu matching, tapi merealokasikan subsidi LPG yang saat ini Rp 18.000 ribu ke Rp 7.000, (subsidi) Rp 11.000. Kami matching hanya Rp 3.000 saja jadi pengurangan. Tadinya subsidi Rp 11.000, bukan subsidi, matching Rp 3.000,” tandasnya. (JPc)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0