HomeBerita Utama

Pemdes dan Warga Kalongan Segera Bangun Jembatan Darurat Mangupu

Pemdes dan Warga Kalongan Segera Bangun Jembatan Darurat Mangupu

Foto: BUTUH PERBAIKAN SEGERA. Akses ke jembatan Mangupu di Desa Kalongan Selatan, Kecamatan Kalongan Talaud, Sulut ditutup sementara sehingga tidak membahayakan warga pasca ambruk Minggu (07/07) malam. 

MELONGUANE, JP – Memperlancar kembali akses transportasi di Kecamatan Kalongan serta lingkar Pulau Salibabu, pemerintah tiga desa dan warga di Kecamatan Kalongan berencana membuat lintasan atau jembatan darurat setelah jembatan Mangutu di daerah itu ambruk pada Minggu (07/07) malam akibat usia tua ditambah curah hujan tinggi.

“Pemerintah akan berusaha dengan secepatnya. Karena jembatan ini ada di jalan trans,” kata Kepala Desa Kalongan Selatan Junitel Taruh, seperti dilansir RRI kemarin.

Baca Juga  MJP: MAM Bukan Pengurus dan Kader PSI

Dia bilang, yang dapat dilakukan saat ini adalah membuat jembatan darurat. “Apakah dengan pohon kelapa ataupun dengan cara-cara lain untuk mempercepat akses jalan yang terputus itu,” kata Junitel.

Rencana pembuatan jembatan darurat itu nantinya akan dikerjakan bersama oleh pemerintah kecamatan, pemerintah tiga desa serta warga masyarakat.

“Kita akan berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan, pemerintah dua desa (Desa Kalongan dan Desa Kalongan Utara) serta tokoh-tokoh masyarakat untuk membicarakan langkah-angkah apa yang akan dilakukan untuk membuat jembatan darurat itu,” tandasnya.

Ketua BPD Desa Kalongan Tomi Lumente mendukung respon cepat pemerintah desa dengan rencana pembangunan jembatan darurat.

Baca Juga  Duet JPAR-Ai Buka Jalan Bagi Pasangan Mor-Kristo Diusung Demokrat

Namun, ia juga berharap Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dapat mempercepat perbaikan jembatan Mangutu yang ambruk Minggu (07/07) malam serta ruas jalan lingkar Salibabu yang sebagian besar masih memprihatinkan kondisinya.

“Jembatan Mangutu itu sudah ada sejak masa Hindia Belanda. Sekitar tahun 1979 mengalami kerusakan dan diperbaiki secara swadaya oleh masyarakat Kolongan yang saat itu masih menjadi satu desa,” kata Tomi. (Rey Atapunang)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0