HomePendidikan & Agama

WKRI Sulut Gelar Rapat Pleno III Bahas Masalah Stunting

WKRI Sulut Gelar Rapat Pleno III Bahas Masalah Stunting

MINAHASA, JP- Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) DPD Sulawesi Utara menggelar Rapat Pleno III, Wanita Katolik RI.

Kegiatan yang berlangsung di di Gedung Kuliah Bersama (GKB) Unima, Tondano Kabupaten Minahasa, Sabtu (29/05/2021) ini dibuka secara resmi oleh Rektor Unima Prof. DR. Deitje Adolfien Katuuk, MPd. Di mana Prof Deitje menjadi narasumber dengan topik “Pencegahan Stunting” dan narasumber lain Prof. Dr. Perry Rumengan M.Sn tentang “Strategi Pengembangan Ekonomi Keluarga Katolik Berbasis Mapalus di Era Modern”.

Turut hadir pada kegiatan tersebut diantaranya, jajaran pimpinan dan staf civitas akademika Unima yang mendampingi rektor, pengurus WKRI Sulut dan anggota serta undangan.

Menurut Prof Deitje, salah satu Dewan Kehormatan untuk 100 tahun WKRI, stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama.

“Ini dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak. Misalkan, tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya,” ujarnya.

Karena itu, lanjutnya, keluarga wajib memiliki kesadaran dan pengetahuan yang baik mengenai bagaimana mendapatkan dan memberikan nutrisi pada anak. Nutrisi tidak harus mahal, yang terpenting adalah kualitasnya.

Baca Juga  Jumlah Siswa Baru Meningkat, Kepsek SD Katolik Pineleng Tambah Kelas

“Pendidikan gizi bagi orang tua sangat penting guna mencegah stunting. Nutrisi tidak harus mahal, yang terpenting adalah kualitasnya,” katanya.

Ketua Pita Putih Indonesia Sulawesi Utara ini melanjutkan, pentingnya pemahaman tentang bagaimana cara pencegahan stunting pada anak sedari awal. Apalagi, belakangan ini isu stunting sedang hangat diperbincangkan banyak orang, khususnya para ibu.

Meski begitu, dikatakan Prof Dietje, upaya pemerintah menekan angka stunting pun terus dilakukan.

“Berdasarkan jumlah dan laporan bahwa angka stunting di Indonesia menurut hasil dari Kementerian Kesehatan terus mengalami penurunan. Ini tentu harus menjadi tanggungjawab kita bersama, bukan hanya pemerintah tetapi juga kita sebagai orang tua, agar supaya anak-anak kita gizinya dapat terpenuhi dengan baik,” paparnya.

Prof Deitje pun membeberkan langkah-langkah pencegahan stunting yang perlu dilakukan diantaranya, memenuhi kebutuhan gizi sejak masa hamil. Tindakan yang relatif ampuh dilakukan untuk mencegah stunting pada anak adalah selalu memenuhi gizi sejak masa kehamilan.

“Kemudian pemberian ASI eksklusif sampai bayi berusia enam bulan. Berdasarkan penelitian, bahwa pemberian ASI ternyata berpotensi mengurangi peluang stunting pada anak berkat kandungan gizi mikro dan makro. Dan k etika bayi menginjak usia enam bulan ke atas, maka ibu sudah bisa memberikan makanan pendamping atau MPASI,” jelasnya.

Baca Juga  Sebuah Kisah Nyata: Salam Maria adalah Doa yang Hebat

Lagi menurut orang nomor satu di Unima ini, para orang tua perlu terus memantau tumbuh kembang anak, terutama dari tinggi dan berat badan anak.

“Caranya dengan membawa anak secara berkala ke Posyandu maupun klinik khusus. Dengan begitu, akan lebih mudah bagi ibu untuk mengetahui gejala awal gangguan dan penanganannya,” ajaknya.

Prof Deitje mengungkapkan, anak-anak sangat rentan akan serangan penyakit, terutama kalau lingkungan sekitar kotor.

“Faktor ini pula yang secara tak langsung meningkatkan peluang stunting. Karena itu jaga kebersihan lingkungan dan selalu membersihkan anak ketika sehabis bermain,” pintanya.

Dirinya menegaskan, upaya paling penting pencegahan stunting ini berawal dari keluarga.

“Keluarga memiliki peran krusial untuk pencegahan dan penanganan masalah stunting atau anak kerdil. Karena itu, upaya pemberdayaan keluarga pun sangat diperlukan,” tegasnya.

“Keluarga menjadi faktor utama penentu bagaimana kita dapat berusaha melakukan pencegahan dan penanganan stunting. Keluarga punya peran penting mencegah stunting pada setiap fase kehidupan. Mulai dari masa ibu mengandung, menyusui, bayi, balita, remaja, menikah, hamil dan seterusnya. Semua dari dalam rumah kita dulu,” tambahnya.

Baca Juga  Sambut Perayaan Kristus Raja Alam Semesta, Panitia Gelar Sejumlah Kegiatan

Pada prinsipnya, kata Prof Deitje, fokus pemerintah dalam hal penanganan stunting antara lain hanya melalui intervensi gizi spesifik dan gizi sensitif.

“Intervensi gizi spesifik dilakukan oleh tenaga kesehatan profesional dan hanya memiliki kontribusi sekitar 30 persen. Dan untuk intervensi melalui gizi sensitif ada pada masyarakat, termasuk kita ada di dalamnya,” jelasnya.

Baginya, dampak intervensi ini lebih bersifat jangka panjang, dan punya kontribusi besar hingga mencapai 70 persen dalam upaya pencegahan stunting.

“Jadi semua kembali pada keluarga, selalu berawal dari dalam rumah kita,” tukasnya.

Oleh karena itu, Prof Deitje mengajak untuk sama-sama cegah permasalahan stunting ini, agar generasi penerus kita akan lebih sehat, pintar dan gizi mereka terpenuhi.

“Jika kita saat ini lalai akan kebutuhan pemenuhan gizi dalam keluarga terlebih anak-anak, maka efeknya bukan hanya dirasakan sekarang, tapi sampai usia tua,” tandasnya. (JPc)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0